• April 6, 2023

Krisis Populasi, Banyak Sekolah di Jepang yang Tutup!

 

Dalam 10 tahun terakhir, krisis populasi di Jepang semakin mengkhawartirkan. Bahkan, hal ini sampai menyebabkan banyak sekolah yang tutup di Jepang. Salah satu sekolah yang merasakan dampak dari hal ini adalah sekolah menengah pertama Yumoto di Prefektur Fukushima.

Sekolah ini dikabarkan akan tutup setelah siswa terakhir mereka lulus dari sana. Eita Sato dan Aoi Hoshi merupakan dua siswa terakhir yang bersekolah di sana. Sebelumnya, sekolah tersebut memang diisi dengan riuh ramai siswa, tetapi kini ruangan tersebut kosong dan hanya diisi oleh derap kaki kedua siswa tersebut.

Mereka seharusnya merayakan upacara kelulusan di SMP Yumoto, tetapi hal tersebut harus pupus dikarenakan sekolah harus tutup karena dampak dari krisis populasi yang terjadi di Jepang.

Sekolah yang sudah berusia 76 tahun tersebut akan tutup selamanya setelah tahun ajaran berakhir di pekan lalu. Eita selaku siswa menyebut ia tidak menyangka sekolah akan benar-benar tutup.

“Kami sempat dengar desas-desus soal penutupan sekolah di tahun kedua kami, tetapi saya tak membayangkan itu akan benar-benar terjadi. Saya terkejut,” kata Eita.

Sekolah Yumoto sendiri berada di Desa Ten-ei, Prefektur Fukushima. Pada sekolah ini terdapat sekitar 50 lulusan per tahun selama masa kejayaan di pertengahan tahun 1960. Foto dari setiap angkatan kelulusan di pampang dekat pintu masuk. Mulai dari foto yang masih berwarna hitam putih, sampai ke yang sudah mulai berwarna.

Tetapi sejak tahun 2000, jumlah siswa yang ada di foto terlihat terus menurun. Bahkan di tahun 2022 lalu sampai tidak ada foto bersama untuk merayakan kelulusan.

Ketika SD, Eita dan Aoi berada pada kelas yang hanya diisikan lima pelajar saja. Dari jumlah tersebut, hanya dua orang saja yang melanjutkan pendidikan di Yumoto.

Mereka selama pembelajaran duduk berdampingan di tengah ruang kelas yang sebenarnya dirancang untuk 20 orang. Kata Eita, pada tahun pertama mereka bersekolah di sana, keduanya sering kali bertengkar.

Tetapi ketegangan antara keduanya mulai mereda saat mereka dapat beradaptasi dengan keadaan. Mereka mencoba untuk bisa mensimulasikan pengalaman seperti sekolah normal lainnya. Kegiatan setelah sekolah, mereka pun melakukan olahraga secara berpasangan, biasanya mereka melakukan tenis meja.

Penutupan sekolah di Jepang mulai meningkat dikarenakan tingkat kelahiran di Jepang yang anjlok. Di tahun 2022 saja, angka kelahiran di Jepang berada di bawah 800 ribu, ini menjadi rekor terendah baru di sana.

Menurut data dari pemerintah, setiap tahunnya Jepang menutup sampai 450 sekolah. Dari 2002 sampai tahun 2020, ada 9.000 sekolah di Jepang yang tutup. Kondisi ini juga membuat daerah yang terpencil menjadi semakin sulit.

“Saya khawatir orang tak akan menganggap daerah ini sebagai tempat pindah untuk memulai keluarga jika tak ada sekolah menengah pertama,” kata ibu Eita, Masumi, yang juga lulusan SMP Yumoto.

Ahli memperkirakan kalau penutupan desa yang ada di pedesaan akan membuat kesenjangan semakin lebar.

Touko Shirakawa yang merupakan dosen sosiologi di Universitas Sagami Women, penutupan dari sekolah ini membuat daerah terpencil menjadi berada di bawah tekanan lebih besar.

“Penutupan sekolah berarti kotamadya pada akhirnya akan menjadi tidak berkelanjutan,” kata Shirakawa.