Keluarga Militer Israel Desak Anggota Keluarga yang Bertugas di Gaza untuk Kembali

japanchildrenrights.org – Keluarga-keluarga militer Israel secara terbuka meminta anggota keluarga mereka yang terlibat dalam operasi militer di Gaza untuk menghentikan pertempuran dan kembali ke rumah. Permintaan ini disampaikan melalui surat terbuka yang ditujukan kepada Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, dan Kepala Staf Angkatan Darat, Herzl Halevi.

Sumber Berita dan Isi Surat:
Menurut laporan Anadolu Agency yang mengutip Haaretz, dalam surat yang dikirim pada hari Selasa dan dilaporkan pada Kamis (13/6/2024), keluarga-keluarga tersebut menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap konflik yang sedang berlangsung di Jalur Gaza. Surat tersebut berisi seruan untuk “menghentikan pertempuran, meletakkan senjata, dan segera kembali.”

Kritik Terhadap Legislatif:
Surat tersebut juga mengkritik keputusan terbaru Knesset, yang menyetujui rancangan undang-undang yang membebaskan pria Ultra-Ortodoks dari wajib militer. Keluarga-keluarga tersebut menganggap keputusan tersebut tidak adil di tengah pengorbanan yang sedang dilakukan oleh para prajurit.

Konteks Konflik:
Konflik di Gaza dimulai pada 7 Oktober lalu, menyusul serangan Hamas ke Israel yang menewaskan 1.200 warga negara. Balasan dari Israel telah mengakibatkan kematian sekitar 37.000 warga sipil Palestina dan kerusakan infrastruktur yang signifikan di Gaza.

Upaya Gencatan Senjata:
Upaya internasional sedang dilakukan untuk menciptakan gencatan senjata permanen di Gaza. Baru-baru ini, Dewan Keamanan PBB menyetujui sebuah resolusi yang diusulkan oleh Amerika Serikat, mendapatkan dukungan dari Hamas, Jihad Islam, dan Otoritas Palestina. Hamas menyatakan kesediaan mereka untuk bekerja dengan mediator dalam implementasi prinsip-prinsip rencana tersebut, termasuk gencatan senjata permanen, penarikan, pertukaran tahanan, rekonstruksi, dan pengiriman bantuan kepada warga Gaza.

Tanggapan Politik di Israel:
Namun, beberapa politisi sayap kanan Israel, termasuk Smotrich dan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, menolak proposal tersebut, dengan alasan tidak sepenuhnya mengeliminasi Hamas. Reut Shapir Ben Naftaly, penasihat menteri, menyatakan bahwa Israel tetap berkomitmen pada demiliterisasi Hamas sebagai bagian dari strategi mereka.

Keluarga-keluarga tersebut berharap bahwa seruan mereka akan mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah dan membawa perubahan yang signifikan dalam pendekatan Israel terhadap konflik ini.

Dampak Gelap Konflik: Bunuh Diri Tentara Israel Soroti Krisis Kesehatan Mental dalam Operasi Militer Gaza

japanchildrenrights.org – Seorang tentara cadangan Israel, Eliran Mizrahi, dilaporkan mengakhiri hidupnya pada Jumat (7/6) menyusul perintah untuk kembali bertugas di Rafah, Gaza. Menurut laporan dari Walla yang dikutip oleh Middle East Monitor (MEMO), Mizrahi mengambil keputusan tersebut setelah mendapat instruksi untuk terlibat dalam operasi militer intensif di wilayah tersebut.

Mizrahi, yang sebelumnya telah terlibat dalam konflik di Gaza pasca serangan dadakan Hamas pada 7 Oktober, mengalami luka serius pada April dan sempat mundur dari garis depan. Channel 12, sebuah stasiun televisi Israel, menggambarkan Mizrahi sebagai seorang veteran IDF yang menderita masalah kesehatan dan diketahui mengalami gangguan stress pasca-trauma (PTSD).

Keluarga Mizrahi menyatakan bahwa dia enggan memberitahukan kondisi kesehatannya kepada IDF atau mengakui dirinya sebagai prajurit yang mengalami cidera serius. Laporan dari Haaretz menyebutkan bahwa sejak Oktober, telah terjadi sepuluh kasus bunuh diri di kalangan perwira dan beberapa prajurit Israel. IDF pada pertengahan Maret mengakui bahwa beberapa personelnya mengalami masalah kesehatan mental.

Sementara itu, situasi di Gaza terus memburuk dengan Israel yang terus melancarkan serangan militer sejak Oktober 2023. Serangan-serangan terbaru termasuk operasi besar-besaran terhadap kamp pengungsian dan fasilitas sipil di Rafah, yang telah menyebabkan lebih dari 37.000 korban jiwa di Palestina, mayoritas adalah anak-anak dan perempuan.