Kontroversi Larangan Mahasiswa Tiongkok: Dampak dan Kritik Terhadap Kebijakan Trump

japanchildrenrights.org – Tiongkok baru-baru ini mengkritik keputusan Presiden AS, Donald Trump, yang berencana melarang mahasiswa Tiongkok untuk memasuki universitas terkemuka, termasuk Harvard. Mereka berpendapat bahwa langkah ini dapat merusak reputasi Amerika Serikat di mata dunia internasional.

Alasan di Balik Larangan

Alasan utama di balik larangan ini adalah kekhawatiran tentang spionase dan keamanan nasional. Pemerintah AS mengklaim bahwa beberapa mahasiswa asing bisa menjadi ancaman, dengan dugaan terlibat dalam pencurian kekayaan intelektual dan teknologi. Namun, banyak pihak menganggap kebijakan ini tidak adil karena menyasar seluruh mahasiswa dari negara tertentu tanpa bukti konkret.

Dampak Terhadap Mahasiswa

Keputusan ini tentu akan berdampak langsung pada mahasiswa Tiongkok yang sedang menempuh pendidikan di Amerika. Banyak dari mereka yang merasa khawatir akan masa depan pendidikan mereka. Selain itu, mereka juga menghadapi tekanan psikologis karena merasa dicurigai oleh pemerintah negara tempat mereka menimba ilmu.

Reaksi Dunia Internasional

Banyak negara lain yang turut menyuarakan keprihatinan mereka terhadap kebijakan ini. Mereka melihat keputusan ini sebagai tindakan medusa 88 diskriminatif yang bertentangan dengan nilai-nilai kebebasan akademik yang selama ini dijunjung tinggi oleh universitas-universitas di Amerika Serikat.

Implikasi Terhadap Hubungan Tiongkok-AS

Ketegangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Kebijakan ini hanya menambah panas hubungan bilateral kedua negara. Tiongkok menilai bahwa langkah ini akan memperburuk hubungan diplomatik dan ekonomi antara kedua negara, yang sudah tegang akibat berbagai masalah perdagangan dan geopolitik.

Pandangan Para Ahli

Para ahli pendidikan dan hubungan internasional mengingatkan bahwa kebijakan ini bisa berdampak jangka panjang terhadap daya saing universitas di Amerika Serikat. Mereka khawatir bahwa pembatasan ini akan menurunkan jumlah mahasiswa internasional yang ingin belajar di sana, sehingga mempengaruhi kualitas pendidikan dan inovasi yang dihasilkan.

Langkah yang diambil oleh pemerintahan Trump ini mendapat sorotan tajam dari berbagai kalangan. Tiongkok dan dunia internasional berharap bahwa kebijakan ini dapat dikaji ulang demi menjaga kerjasama internasional di bidang pendidikan dan penelitian. Reputasi Amerika Serikat sebagai pusat pendidikan global dipertaruhkan di tengah kontroversi ini.

Trauma dan Transformasi: Bagaimana Penyiksaan di Kamp Bucca Mendorong Abu Bakar Al Baghdadi Menjadi Ekstremis

japanchildrenrights.org – Abu Bakar Al Baghdadi, pemimpin ISIS yang meninggal, dilaporkan menjadi ekstremis setelah mengalami penyiksaan seksual saat ditahan di fasilitas yang dikelola oleh Amerika Serikat. Al Baghdadi ditahan di Kamp Bucca, Irak, pada tahun 2004 dan meninggal dalam operasi militer oleh pasukan Amerika pada tahun 2019.

Dalam sebuah wawancara dengan BBC, Umm Hudaifa, istri Al Baghdadi, mengungkapkan transformasi yang dialami oleh suaminya. Menurut Hudaifa, Al Baghdadi awalnya adalah individu yang religius dan berpikiran terbuka, namun bukan ekstremis. Namun, setelah mengalami penyiksaan selama setahun di tahanan, dia mengalami perubahan sikap yang drastis, termasuk menjadi lebih mudah marah dan agresif.

“Dia menghadapi masalah psikologis, menjadi pemarah dan mudah meledak-ledak,” kata Hudaifa, seperti dikutip oleh Middle East Monitor. Saat ditanya tentang perubahan sikapnya, Al Baghdadi tidak memberikan penjelasan rinci, hanya mengatakan, “kamu tidak akan mengerti.”

Hudaifa menduga bahwa suaminya mungkin telah menjadi korban penyiksaan seksual selama masa tahanannya. Dia juga mengungkapkan bahwa dia pernah mengkonfrontasi Al Baghdadi mengenai pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak bersalah, namun jawaban Al Baghdadi adalah bahwa ada justifikasi berdasarkan hukum Islam untuk tindakan-tindakan tertentu, seperti membimbing orang-orang menuju pertobatan.

Lima tahun setelah kematian Al Baghdadi, Umm Hudaifa ditahan di sebuah penjara di Baghdad. Dia sedang diselidiki karena dugaan keterlibatannya dalam kejahatan seperti perbudakan seksual terhadap perempuan dan anak perempuan yang diculik oleh kelompok ekstremis. Selain itu, seorang pria bernama Hamid Yazidi dan putrinya, Soad, yang dilaporkan telah menjadi korban perdagangan manusia sebanyak tujuh kali, telah mengajukan gugatan perdata dan menuntut hukuman mati untuk Hudaifa.

Masa Depan TikTok di Amerika Serikat: Ancaman dan Kompleksitas Divestasi

japanchildrenrights.org – Nasib TikTok di Amerika Serikat (AS) kini bergantung pada keputusan sulit antara divestasi atau ancaman blokir dari pemerintah AS. ByteDance, induk perusahaan TikTok, diberi ultimatum terkait kecurigaan bahwa TikTok digunakan oleh pemerintah China untuk kegiatan mata-mata terhadap warga AS.

Meskipun TikTok membantah tuduhan tersebut dan menegaskan independensinya, sukses aplikasi ini di AS telah memicu ketegangan antara Washington dan Beijing. Dengan 170 juta pengguna bulanan di AS, opsi divestasi menjadi tantangan besar mengingat kemungkinan campur tangan pemerintah China untuk menggagalkan penjualan saham TikTok di AS.

Ditambah lagi, valuasi TikTok yang mencapai US 100  16 miliar hingga US$ 20 miliar, yang merupakan sekitar 16% dari total pendapatan ByteDance. Meskipun ada perusahaan seperti Meta atau Alphabet yang memiliki sumber daya finansial cukup, undang-undang anti persaingan dapat menjadi kendala.

Selain itu, tantangan besar lainnya terkait dengan algoritma TikTok yang menjadi inti operasional ByteDance. Kecil kemungkinannya algoritma ini akan dibuka kepada pihak lain, dan TikTok telah menegaskan ketidaksediaannya menjual aplikasinya tanpa algoritma yang menjadi ciri khasnya.