• November 16, 2022

2 Menteri Jepang Mengundurkan Diri, Perdana Menteri Jepang Kian Terpuruk

Menteri Kehakiman Jepang, Yasuhiro Hanashi, mengundurkan diri pada Jumat 11 November. Ia merupakan menteri kedua yang mengundurkan diri dalam sebulan belakangan. “Saya memberikan surat pengunduran diri saya ke perdana menteri,” ujar Hanashi.

Hanashi mengundurkan diri di tengah hujan kritik karena pernyataan kontroversialnya mengenai eksekusi mati. Ia menarik perhatian karena mendukung eksekusi mati di pagi hari. teknik yang selama ini di kritik oleh sekelompok pembela hak asasi manusia.

Selama ini, Jepang baru akan memberikan notifikasi eksekusi kepada seorang terpidana mati di pagi di hari ia akan di eksekusi. Di saat komentarnya menuai kritik, Hanashi langsung meminta maaf pada hari Kamis 10 November.

Hanashi juga mengatakan di hadapan parlemen bahwa ia akan “menarik kembali pernyataan itu.” Namun, kritik masih terus menghujani dirinya sampai akhirnya ia mengundurkan diri. Ia juga di duga akan di gantikan oleh mantan menteri agrikultur, Ken Saito.

 

2 Menteri Jepang Mengundurkan Diri

Hanashi merupakan menteri kedua yang mengundurkan diri dalam sebulan belakangan. Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Jepang, Minoru Terada, juga mengundurkan diri usai skandal pencatatan dana politiknya.

Deretan pengunduran ini terjadi di tengah kemerosotan popularitas partai berkuasa Jepang, Partai Demokratik Liberal (LDP). LDP memicu kontroversi karena di anggap terkait dengan Gereja Unifikasi, yang terseret dalam kasus pembunuhan Shinzo Abe pada 8 Juli lalu.

Pelaku penembakan Abe, Tetsuya Yamagami, mengaku memang berniat membunuh sang mantan pemimpin Negeri Matahari Terbit itu karena terkait dengan Gereja Unifikasi. Yamagami memendam dendam karena keluarganya jattuh miskin setelah ibunya mengucurkan banyak dana untuk donasi gereja Unifikasi.

Keluarga Abe memang mempunyai rekam jejak kedekatan dengan Gereja Unifikasi, begitu juga dengan sejumlah anggota partai berkuasa. Semenjak tragedi pembunuhan Abe, dukungan pubklik terhadap Kishida dan partai berkuasa pun merosot, dari 59 persen menjadi 46 persen dalam kurun 3 pekan.

Kantor penyiaran publik Jepang, NHK, melaporkan bahwa ini merupakan angka popularitas terendah Kishida selama menjabat sebagai PM.